Membuka Jalur

Judul Film : Membuka Jalur

Aktor dan Crew :
Sutradara Gan Ginanjar
Produser dan Penulis  Yasmin Zahra Khairunnisa
Fotografer  Gan Ginanjar
 Ahmad Rouf Faizun
Editor  Ahmad Rouf Faizun
Asisten Editor  Yasmin Zahra Khairunnisa
Featuring  Angga Gilang Ramadhan
 Lingga Hadia
 Ricky Ardian Harahap
 Teranova Waksman
 Eduin Efendi
 Joga Desaki
 Yogaswara Sunandar Sunarya
 Amanda Pingkan
 Yudi Pratama
Poster  Nazip Sabda Haqi

 

Sinopsis :
Kondisi pandemi mengubah kehidupan semua manusia. Setiap dari kita harus beradaptasi untuk dapat menyambung hidup. Di Kota Bandung, kita akan menyaksikan tiga cerita berbeda, dari mereka yang bertahan hidup dengan caranya tersendiri. Ketiganya sama-sama bergerak atas dasar hal yang sama; mencari penghidupan, mensiasati kegiatan yang terbatas, mengaktualisasi diri dan mengeksekusi mimpi. Pertama adalah cerita seorang seniman pertunjukan bernama Lingga. Di masa pandemi ini, ia sulit mendapat pengasilan. Ia di-PHK dari pekerjaan sebelumnya sebagai pelaku seni pertunjukan di Trans Studio. Namun Lingga tak gentar. Ia ingin tetap tampil dan beratraksi. Ia pun menciptakan panggungnya sendiri dengan turun ke jalan. Lingga sangat terdorong dengan dukungan penuh dari keluarganya, khususnya istrinya, juga teman-teman sesama penari api. Beratraksi di jalan menjadi satu satunya sumber pendapatan untuk menghidupi keluarganya. Namun tanpa disangka, ternyata penghasilan yang ia dapat tidaklah sedikit. Terlepas dari penghasilannya, ia mendapatkan apresiasi yang sangat berarti dari para pengendara. Lingga bertekad untuk tetap tampil di jalanan dan menjadikan jalanan sebagai panggung pertunjukannya meskipun pandemi sudah berakhir. Panggilan jiwanya sebagai seorang seniman-lah yang membuatnya ingin terus tampil dan menghibur masyarakat. Cerita kedua datang dari seorang pedagang kopi keliling bernama Angga. Angga merupakan mantan barista di sebuah cafe. Kecintaannya terhadap kopi sudah muncul sejak pertemuan pertamanya dengan kopi ketika ia bekerja di industri Food & Beverages sekitar 9 tahun lalu. Semenjak berhenti bekerja setahun lalu, ia harus tetap berpenghasilan guna membiayai studinya sebagai mahasiswa. Terlebih kondisinya saat ini tidak lagi memungkinkan baginya untuk membebani orang tua di rumah. Bermula dari keterpaksaan dan tidak adanya pilihan lain, Angga mencetuskan untuk menggabungkan kedua minatnya yaitu kopi dan sepeda, menjajakan kopi “Matisti”. Berjualan kopi dan menjadi pengusaha rupanya adalah mimpinya sejak dulu. Ia juga terinspirasi dari penjual kopi di atas motor Vespa di daerah Dago, Bandung yang setiap pulang kerja selalu ia lewati. Kini matisti sudah berjalan hampir satu tahun. Kopi racikan Angga serta kepribadiannya yang ramah dan tidak enggan berbagi kian berbekas di hati para pembelinya. Ketiga, kita akan berkenalan dengan sekelompok pemuda yang bergerak atas dasar semangat kolektif, Doa Ubi. Mereka terdiri dari orang-orang dengan beragam latar belakang, ketertarikan, dan pekerjaan. Dua hal yang menyatukan mereka di masa pandemi ini adalah: mobil dan makanan. Tergabung dalam kolaborasi bersama Warung Ubi sebagai produsen makanan, didukung oleh Endo Enterprise sebagai seksi dokumentasi dan event, Doa Ubi berkeliling menyajikan makanan lezat dan sehat langsung ke rumah konsumen. Mereka mendorong para pembeli untuk menggunakan peralatan makan sendiri sebagai upaya mengurangi kemasan sekali pakai. Juga tentu saja, mendukung protokol kesehatan. Merekapun kerap membagikan makanan donasi kepada kelompok masyarakat yang jarang terperhatikan. Seiring gerakan ini berlanjut, mereka tidak hanya menjual makanan produksi sendiri, namun juga membantu pelaku-pelaku usaha kecil di sekitar untuk menitipkan makanan dan ikut berlapak di mobil. Ke depannya, Doa Ubi masih memiliki banyak mimpi dan gagasan yang belum mereka realisasikan. Mereka akan tetap berlapak, berkegiatan dengan misi-misi sosial, dan yang terpenting tetap menjaga kolaborasi.

Lihat film lain

Kelompok Tidak Belajar

Genre : Fiksi

Periode voting telah ditutup
Terima kasih telah ikut berpartisipasi
dalam Indiscreening